RHEUMATOID ARTHRITIS


Artritis reumatoid

Artritis reumatoid (RA) merupakan pembengkakan pada jaringan ikat yang menyerang sendi tangan dan kaki serta dapat terjadi pada semua golongan usia. Penyebabnya diduga adalah gangguan autoimunitas serta faktor infeksi, genetis, dan endokrin. Penderita yang mudah terkena RA secara genetis mengembangkan antibodi immunoglobulin G yang abnormal atau yang telah berubah saat terpapar suatu antigen.

Artritis rematoid ( Rheumatoid arthritis, RA) adalah penyakit autoimun dengan gejala utama nyeri dan peredangan sendi. Etiologi penyakit ini belum sepenuhnya diketahui. Dimana nyeri sendi pada RA secara bermakna dapat menurunkan kualitas hidup, serta dapat mengganggu aktivitas perkerjaan dan sosial. Pada pasien RA juga didapatkan peningkatan angka mortalitas yang bermakna. Prevalensi RA bervariasi antar nengara dimerika serikat diperkirakan sekitar 0,5%, diinggris sekitar 0,67% dan dijepang sekitar 0,6%. Survei prevalensi di indonesia mendapatkan angka sekitar 30%.

Manifestasi Klinis Rheumatoid Arthritis

Keluhan biasanya mulai secara perlahan dalam beberapa minggu atau bulan. Sering pada keadaan awal tidak menunjukkan tanda yang jelas. Keluhan tersebut dapat berupa :

1.    Keluhan umum, dapat berupa perasaan badan lemah, nafsu makan menurun, peningkatan panas badan yang ringan atau penurunan berat badan.

2.    Kelainan sendi, Keluhan sering berupa kaku sendi di pagi hari, pembengkakan dan nyeri sendi. Terutama mengenai sendi kecil dan simetris yaitu sendi pergelangan tangan, lutut dan kaki (sendi diartrosis).

3.   Kelainan diluar sendi, seperti pada Kulit (nodul subukutan), Paru-paru (paru obstruktif dan kelainan pleura), Jantung (40% pada autopsi RA didapatkan kelainan perikard), dan lain-lain.

Terapi Farmakologi

Tujuan dari pengobatan rheumatoid arthritis tidak hanya mengontrol gejala penyakit, tetapi juga penekanan aktivitas penyakit untuk mencegah kerusakan permanen. Pemberian terapi rheumatoid arthritis dilakukan untuk mengurangi nyeri sendi dan bengkak, serta meringankan kekakuan dan mencegah kerusakan sendi sehingga dapat meningkatkan kualitas hidup pasien meringankan gejala tetapi juga memperlambat kemajuan penyakit.

Pengobatan

Penatalaksanaan pada RA mencakup terapi farmakologi, rehabilitasi dan pembedahan bila diperlukan, serta edukasi kepada pasien dan keluarga. Tujuan pengobatan adalah menghilangkan inflamasi, mencegah deformitas, mengembalikan fungsi sendi, dan mencegah destruksi jaringan lebih lanjut.

1.    NSAID (Nonsteroidal Anti-Inflammatory Drug). 

Diberikan sejak awal untuk menangani nyeri sendi akibat inflamasi. NSAID yang dapat diberikan atara lain: aspirin, ibuprofen, naproksen, piroksikam, dikofenak, dan sebagainya. Namun NSAID tidak melindungi kerusakan tulang rawan sendi dan tulang dari proses destruksi.

2.    DMARD (Disease-Modifying Antirheumatic Drug).

Digunakan untuk melindungi sendi (tulang dan kartilago) dari proses destruksi oleh Rheumatoid Arthritis. Contoh obat DMARD yaitu: hidroksiklorokuin, metotreksat, sulfasalazine, garam emas, penisilamin, dan azathioprine. DMARD dapat diberikan tunggal maupun kombinasi.

3.    Kortikosteroid.

Diberikan kortikosteroid dosis rendah setara prednison 5-7,5mg/hari sebagai “bridge” terapi untuk mengurangi keluhan pasien sambil menunggu efek DMARDs yang baru muncul setelah 4-16 minggu.

4.    Rehabilitasi.

Terapi ini dimaksudkan untuk meningkatkan kualitas hidup pasien. Caranya dapat dengan mengistirahatkan sendi yang terlibat melalui pemakaian tongkat, pemasangan bidai, latihan, dan sebagainya. Setelah nyeri berkurang, dapat mulai dilakukan fisioterapi.

5.    Pembedahan.

Jika segala pengobatan di atas tidak memberikan hasil yang diharapkan, maka dapat dipertimbangkan pembedahan yang bersifat ortopedi, contohnya sinovektomi, arthrodesis, total hip replacement, dan sebagainya.  

Contoh obat Artritis reumatoid DMARD (Disease-Modifying Antirheumatic Drug) salah satunya adalah: Sulfasalazine (DMARD)

Farmakokinetik 

·       Absorpsi : 15% dari dosis diserap dari usus halus, sisanya mencapai usus besar dimana ikatan azo dibelah oleh flora usus, menghasilkan sulfapyridine dan asam 5-aminosalicylic (mesalazine). 60% sulfapyridine dan 10-30% asam 5-aminosalicylic diserap dari usus besar

·       Distibusi : pada pemberian secara intravena dapat melintasi plasenta dan ditemukan dalam ASI. Sulfasalazine secara ekstensif terikat protein sementara sulfapyridine didistribusikan ke sebagian besar jarigan tubuh.

·       Volume distribusi : 7,5 liter

·       Metabolisme : sulfapiridin mengalami metabolisme ekstensif dengan asetilasi, hidroksilasi dan glukoronidasi. Asam 5-aminosalisilat yang terserap mengalami asetilasi

·       Ekskresi : melalui urin sebagai sulfasalazine tidak berubah (15%), sulfapiridin dan metabolitnya (60%) dan asam 5-aminosalisilat dan metabolitnya (20-33%)

Farmakodinamik 

·       Interaksi obat : kadar plasma dikurangi oleh rifampisin dan etambutol, menggangu penyerapan asam folat, mengurangi kadar digoksin serum.

·       Mekanisme kerja : menghambat respon sel B dan angiogenesis. 

 

DAFTAR PUSTAKA

Alamanos, Y., & Drosos, A.A., 2013, Epidemiology of Adult Rheumatoid Arthritis, Autoimmunity Reviews, 4 (3), 130-136.

Arini,L dan T.Eltrikanawati. 2020. Asuhan Keperawatan Pada Klien Dengan Rheumathoid Arthritis. Pustaka Galeri Mandiri, Padang.

Kee,L.J dan E.R. Hayes. 1996. Farmakologi : Pendekatan Proses  Keperawatan. EGC , Jakarta.

Leveno, K.J., F.G. Cunningham., N.F. Gant., J.M. Alexander., S.L. Bloom., B.M. Casey., J.S. Dashe., J.S. Sheffield dan N.P. Yost. 2003. Obstetri Williams : Panduan Ringkas Ed 21, EGC, Jakarta.

 

Pertanyaan:

1. Pengobatan dalam Rheumatoid Artritis terbagi menjadi lima kategori, manakah obat yang paling disarankan dalam pengobatan rheumatoid dan memberikan efekivitas lebih tinggi?  jelaskan alasannya

2. Bagaimanakah mekanisme kerja obat sulfasalazine dalam pengobatan rheumatoid arthritis?

3. Terjadi pembengkakan dijari tangan sehingga membuat jari menjadi bengkok dan nyeri sendi (RA). Dalam kasus ini bisakah jari tangan yang telah bengkok kembali normal setelah dilakukan pengobatan? Dan pengobatan seperti apa yang paling disarankan?

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

HEMATOLOGI (II) : Fibrinolisis dan Antifibrinolitik

ANTIHISTAMIN (II)

HEMATOLOGI (I)